YDXJ1477
Processing Batik

  • Location

Gumelem, Banjarnegara – Central Java


  • The story

Saturday afternoon I waited a blogger named Matthias. He is blogger and traveler from Germany. He just arrived from Yogyakarta and planned to visit Pangandaran, but after we told many things he decided to visit Banjarnegara firstly. We met on the square and went to my home which far away from the central city. Language was main problem because only few people understood English.

Sabtu sore itu saya menanti seorang blogger bernama Matthias, dia blogger sekaligus petualang asal Jerman. Dia baru saja dating dari Yogyakarta dan berencana pergi ke Pangandaran, tetapi setelah berbincang-bincang dia memutuskan untuk singgah terlebih dahulu di Banjarnegara. Kami bertemu di alun-alun Banjarnegara sore itu dan langsung menuju rumah saya yang jaraknya cukup jauh dari pusat kota. Bahasa merupakan salah satu kendala di Banjarnegara. Tidak semua dapat berbicara dan mengerti bahasa Inggris.

That day we planned to go to a village which has many culture in Banjarnegara, it is Gumelem.  The day before it we also visit Dieng. You can read about our journey in Dieng on this following link : Dieng ft. Sandflug

Pada hari itu kami berencana pergi ke sebuah desa yang penuh budaya di Banjarnegara, Gumelem namanya setelah sebelumnya kami sempat mengunjungi Dieng terlebih dahulu. Dapat Anda baca perjalanan di Dieng pada tautan berikut : Dieng ft. Sandflug

 

YDXJ1467
The old lady was making a pattern
YDXJ1469
Coloring area
YDXJ1470
Sunbathing area
YDXJ1474
Already have a first like
YDXJ1482
Taking a photo with the owner

We started early morning by motorcycle and took 30 minutes. First place we went was for see how to make Batik by Ms. Mirah. Ms. Mirah is one of famous Batik artist in Banjarnegara. After we arrived, Ms. Mirah showed us the process of making Batik, described the different of natural and chemical coloring, also the means of each designs and patterns. Ms. Mirah also asked us to try making some pattern with candle. The tool for making the pattern calls Canting and is difficult for beginner like us to operate it. Matthias looked better after some tries. Incomplete is without shopping time ! It’s a must. Matthias bought some Batik and also a small bag for his friend.

Perjalanan dimulai saat pagi masih sejuk, kami berdua pergi ke Gumelem menggunakan motor dan menempuh 30 menit perjalanan. Tujuan pertama kami adalah melihat proses pembuatan batik oleh Bu Mirah. Bu Mirah adalah salah satu pembatik termahsyur di Banjarnegara. Sesampainya disana Bu Mirah mengajak kami melihat bagaimana cara membuat batik, menjelaskan perbedaan warna alami dan kimia, serta menjelaskan makna-makna dari setiap desain dan corak batik. Bu Mirah pula mengajak Matthias dan saya untuk menjajal membuat pola batik dari lilin. Alat untuk membatik dinamakan canting dan amat sulit menggunakannya bagi pemula. Matthias tampak mulai menguasai setelah beberapa percobaan. Belum lengkap rasanya bila belum berbelanja, itu adalah wajib. Matthias membeli beberapa batik yang dia sukai serta sebuah tas kecil untuk temannya.

YDXJ1492
The workers hit the iron
YDXJ1495
Everybody was busy

After we got satisfied on learning batik we stepped ahead to a workshop which make some traditional farm equipment. Luckily I know one of the worker. There is 24 different locations in Gumelem which has workshop and each place handled by 3-4 workers depends what he told. Every worker has his own task. The worker usually called Pandai Besi. They make a plat of iron into equipment with hitting the iron repeatedly with a big hammer. When it has done then sharpened and ready for selling.

Setelah kami puas dengan ilmu membatik kami melanjutkan menuju tempat pembuatan peralatan tani. Saya kebetulan kenal dengan salah satu pekerjanya. Menurutnya terdapat 24 lokasi di Gumelem yang membuat peralatan ini dan setiap tempat ditangani oleh sekitar 3-4 pekerja.Setiap pekerja memiliki tugas masing-masing. Para pekerja ini sering disebut dengan pandai besi. Mereka membuat lempengan besi panas menjadi peralatan dengan memukulnya berulang-ulang menggunakan palu besar. Setelah terbentuk sempurna lalu ditajamkan dan siap diedarkan.

YDXJ1509
The enterance gate
YDXJ1511
The cemetery of Ki Ageng Giring
YDXJ1513
Invited to have lunch with people
YDXJ1514
Lot of traditional foods every Monday !
YDXJ1515
The cemetery of Ki Ageng’s family

We hadn’t stop yet. We did small hiking to visit the cemetery of Ki Ageng Giring and Ki Ageng Gumelem. That day was so hot and we sweated much. There was a lot people and we need to get permission for entering the cemetery from the caretaker. We allowed to go and see the cemetery from close range. We planned to go before the caretaker asked us to join the mealtime. Of course we couldn’t deny ! We ate many delicious traditional foods with a big leaf as a plate. We talked about Gumelem and got much information.

Langkah kami belum berhenti. Kami melakukan sedikit pendakian untuk mencapai makan Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Gumelem. Hari itu cukup panas dan kami berkeringat banyak. Ternyata banyak orang di pemakaman dan untuk memasukinya kami meminta ijin dahulu kepada penjaga atau juru kunci. Kami diizinkan masuk dan melihat pemakaman tersebut. Setelah itu kami berniat untuk melanjutkan perjalanan tetapi kami ditawari untuk ikut makan bersama warga. Tentu saja kami tidak dapat menolak ! Kami makan dengan makanan tradisional yang lezat dan menggunakan duan besar sebagai piringnya. Kami berbincang-bincang banyak hal tentang Gumelem.

YDXJ1517
Natural hot water
YDXJ1522
Played on the river and found new spot of hot water

Our final step was the hot water bathing place. To go there, we walked from cemetery. Matthias very likes walking in village and meet villager. He bought some rambutan and water for drink on local shop. We finally got there after 30 minutes walking. Hot water helped us for relaxation. It was our last day. Matthias continued his journey to Pangandaran on the afternoon. That was great experience for us !

Langkah terakhir kami adalah menuju pemandian air panas. Kami berjalan kaki dari pemakaman menuju tempat itu. Matthias sangat menyukai berjalan di desa dan melihat warga sekitar. Dia pun membeli rambutan untuk dimakan serta air minum di warung. Pada akhirnya kami sampai setelah berjalan sekitar 30 menit. Air panas membantu kami untuk relaksasi. Ini adalah hari terakhir kami. Sore harinya Matthias melanjutkan perjalanannya ke Pangandaran. Sungguh pengalaman yang luar biasa untuk kita !

 

chat

Ayo wisata ke Banjarnegara

Mayuh Plesir Maring Banjarnegara

Advertisements